Pria Metroseksual

Beberapa tahun belakangan ini kita sering mendengar istilah pria metroseksual. Apa sebenarnya pria metroseksual? Pria metroseksual adalah istilah yang diberikan pada para pria yang sangat memeprhatikan penampilan dan suka ‘berdandan’. Ya, konotasi ‘berdandan’ kini tidak lagi menjadi milik wanita, tapi pria pun melakukannya.

Fenomena ini biasanya terjadi di kota-kota besar, dimana arus globalisasi dan informasi sangat cepat menyebar dan diterima para individunya. David Beckham menjadi ikon internasional yang menjadi tren setter bagi para pria metroseksual di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, kita bisa menyebut aktor Ferry Salim sebagai ikon. Penampilan mereka yang dandy, wangi, rapi dan klimis tidak menjadikan mereka dijuluki atau di cap banci, tapi sebaliknya, sekarang banyak wanita yang menyukai para pria metroseksual ini. Jadi, pria metroseksual ini tidak berkonotasi pada preferensi seksual tertentu atau membuat mereka di cap keperempuan-perempuanan.

Pria metroseksual ini biasanya berasal dari kalangan menengah atas. Berdasarkan Indonesian Metrosexual Behavioral Survey yang dilakukan MarkPlus&Co akhir tahun lalu, para pria metroseksual ini umumnya paling suka belanja, tidak tabu untuk berdandan dan memanjakan diri dengan berlama-lama di salon, suka ngerumpi berjam-jam di kafe, dan sangat fashion-oriented — mereka selalu update terhadap model baju terbaru di New York atau Milan (dalam www.republika.co.id). Bahkan mereka memiliki jadwal rutin ke salon atau spa langganan mereka. Selain ‘mempercantik’ diri, mereka juga suka pergi ke tempat fitness dengan alasan menjaga penampilan mereka. Kebanyakan dari mereka juga akrab dengan produk-produk kecantikan yang dulunya hanya menjadi konsumsi kaum wanita, seperti alas bedak, lipstik, pelembab, dan sebagainya. Beberapa produsen kosmetikpun memiliki koleksi khusus pria. Selain kosmetik, perlengkapan pakaian pun banyak dijejali dengan koleksi khusus pria dengan merk-merk terbaik. Bila dulu hanya kaum wanita yang aware untuk memakai perlengkapan yang branded, sekarang pria pun tidak mau kalah. Akibatnya, banyak produsen yang akhirnya juga melirik memproduksi perlengkapan koleksi untuk pria, mulai dari kosmetik, pakaian dan perlengkapan lainnya.

Menurut Tika Bisono, seorang psikolog, bahwa latar belakang para pria ini rata-rata berawal dari kegiatan fashion atau pekerjaan-pekerjaan seni yang menuntut ketelitian sebagaimana kaum perempuan (dalam www.pikiran-rakyat.com). Jadi ada semacam kebiasaan atau tuntutan profesi bahwa mereka harus berpenampilan rapi dan necis. Ambil contoh Ferry Salim, sebagai seorang pekerja seni, aktor, MC dan selebritis, maka profesinya menuntut untuk dia harus berpakaian rapi dan berdandan.

VALS (VALUE, ATTITUDE & LIFE-STYLE)

Fenomena mengenai pria yang suka berdandan ini sebenarnya sudah ada sejak 1960-an, namun istilah pria metroseksual baru mencuat lima tahun terakhir. Sebutan ini awalnya tidak mendapat sambutan yang baik bagi para pria metroseksual, namun sekarang sebutan ini justru menjadi kebanggaan. Hal ini seiring dengan perubahan masyarakat dan sistem nilai yang berkembang.

Masyarakat dahulu lebih berpola sederhana dan lebih cenderung memiliki nilai tradisional. Sesuai dengan tata nilai masyarakat sebelumnya, maka pria digambarkan sebagai sosok yang macho, yang berpakaian lebih simpel dibanding wanita dan apa adanya. Pria juga lebih cenderung mengeksklusifkan diri dengan kelelakiannya dan cenderung menjauhi hal-hal yang berkonotasi wanita, seperti berdandan rapi, klimis, pergi ke salon atau spa. Dulu, hal-hal itu dianggap tabu untuk dilakukan olah pria. Namun sekarang, seiring berkembangnya jaman, maka pria dan wanita seringkali banyak memiliki kesamaan aktifitas, kesukaan bahkan pernak-pernik.

Pergeseran ini akhirnya membuat masyarakat, khususnya para kaum adam termotivasi untuk melakukan beberapa hal yang dulu awalnya dianggap tabu untuk dilakukan, seperti berdandan, rajin ke salon, spa, mal. Dorongan ini tentunya memiliki berbagai alasan yang berbeda pada masing-masing individu yang bersangkutan. Menurut teori hirarki kebutuhan dari Maslow, para pria yang berada pada level ini sudah bukan lagi ada pada tataran memenuhi kebutuhan dasar. Paling sedikit mereka berada pada level memenuhi kebutuhan sosial untuk dihargai dan merasa sebagai bagian dari satu masa atau trend saat itu sehingga harapannya dapat mendongkrak self-esteem mereka. Hasil akhirnya adalah mereka akan mendapatkan aktualisasi diri dan pengakuan dari sekelilingnya. Dari kelas sosial ekonomi, dapat dipastikan mereka berasal dari kalangan menengah keatas. Ini tampak jelas karena membutuhkan biaya cukup besar untuk membiayai gaya hidup mereka yang cukup tinggi, seperti hang out di kafe bersama teman-teman, pergi secara rutin ke salon, spa, tempat fitness. Belum lagi membeli ‘kosmetik’ untuk dipakai sehari-hari dan barang-barang branded yang merupakan salah satu lambang identitas mereka.

Menurut Mitchell (1983) dalam Antonides (1991) disebutkan bahwa terdapat 9 tipe nilai dan gaya hidup orang Amerika (VALS) yang karakteristiknya ditandai dengan demografi dan pola beli. 9 tipe ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

• The survivors dan the sustainers yang merupakan tipe consumen. Cirinya adalah secara demografi mereka berpenghasilan rendah, berpendidikan rendah, merupakan kelompok minoritas dan tinggal di daerah yang padat. Harga menjadi faktor dominan dan fokus pada kebutuhan dasar.

• The belongers, emulators, dan achievers merupakan 3 tipe yang pola belinya didorong oleh pandangan dari luar (outer directed) dan biasanya mereka membeli dengan kesadaran bahwa orang diluar mungkin akan memperhatikan atau mengavaluasi konsumsi mereka.

• The I-Am-Me, the experiential, the social aware dan the integrated. Tipe ini didorong oleh dirinya sendiri (inner directed) yang lebih merupakan pemenuhan kebutuhan individual dibanding dengan memperhatikan eksternal.

Katagorisasi tersebut mengambil teori hirarki kebutuhan Maslow sebagai dasar. Pria metroseksual dapat digolongkan sebagai kategori kedua dan ketiga. Dengan tingkat sosio ekonomi menengah dan level pemula, biasanya mereka masih memperhatikan pandangan orang luar dalam melakukan tindakan ekonomi atau konsumsi. Sementara pria metroseksual dengan tingkat yang lebih tinggi, mereka cenderung memenuhi kebutuhannya dengan dorongan untuk memenuhi kebutuhan individualnya dibanding mempertimbangkan pandangan orang luar atau eksternal. Mereka ini berjumlah kecil dan akan berkembang, namun mereka juga biasanya adalah trend setter (Mitchell dalam Antonides, 1991).

Di Indonesia, nilai dan gaya hidup seperti dikemukakan oleh Mitchell dapat dikatakan sesuai. Seiring dengan arus informasi dan globalisasi, sesuatu yang bergerak dari negara maju akan dengan cepat sampai di balahan dunia yang lain, termasuk di Indonesia dan kota besar pada khususnya.

Dengan gambaran seorang pria metroseksual, maka tampak bahwa mereka dengan kelas sosial ekonomi mengengah keatas, dengan pendidikan yang cukup tinggi, dan pergaulan yang luas, adalah sangat mungkin mendapat akses informasi yang cepat dan up to date. Akibatnya, gaya hidup dan nilai yang dulunya mereka pegang akan dengan mudah pula bergeser ke nilai dan gaya hidup yang disesuaikan dengan tuntutan jaman, profesi dan sosial. Hal ini otomastis akan berpengaruh pada perilaku mereka.

REFERENSI

Antonides, Gerrit, Psychology in Economic and Business, An Introduction to Economic Psychology, Kluwer Academic Publishing, 1991

Harcar, Talha; Kaynak, Erdener; Kucukemiroglu, Orsay; Life Style Orientation of US and Canadian Consumers: Are Regio-Centric Standardized Marketing Strategies Feasible?, First Submission to Management International Review in May 2004

www.pikiran-rakyat.com, Pria Metroseksual: Eksis di Jalur Maskulin, browsing tanggal 30 September 2007

www.republika.co.id, Pasar Metroseksual, browsing tanggal 30 September 2007

1 Comment

Filed under ILMIAH

One Response to Pria Metroseksual

  1. tulisan kamu bagus. kalo di financia tulisan kamu nyantai, di site ini serius. banyakin nulis dong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s