<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Erry Kurniawati's Weblog</title>
	<atom:link href="http://errykurniawati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://errykurniawati.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2009 08:05:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='errykurniawati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Erry Kurniawati's Weblog</title>
		<link>http://errykurniawati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://errykurniawati.wordpress.com/osd.xml" title="Erry Kurniawati&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://errykurniawati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pria Metroseksual</title>
		<link>http://errykurniawati.wordpress.com/2009/06/17/pria-metroseksual/</link>
		<comments>http://errykurniawati.wordpress.com/2009/06/17/pria-metroseksual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 07:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>errykurniawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[ILMIAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://errykurniawati.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun belakangan ini kita sering mendengar istilah pria metroseksual. Apa sebenarnya pria metroseksual? Pria metroseksual adalah istilah yang diberikan pada para pria yang sangat memeprhatikan penampilan dan suka ‘berdandan’. Ya, konotasi ‘berdandan’ kini tidak lagi menjadi milik wanita, tapi &#8230; <a href="http://errykurniawati.wordpress.com/2009/06/17/pria-metroseksual/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=errykurniawati.wordpress.com&amp;blog=3177710&amp;post=7&amp;subd=errykurniawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun belakangan ini kita sering mendengar istilah pria metroseksual. Apa sebenarnya pria metroseksual? Pria metroseksual adalah istilah yang diberikan pada para pria yang sangat memeprhatikan penampilan dan suka ‘berdandan’. Ya, konotasi ‘berdandan’ kini tidak lagi menjadi milik wanita, tapi pria pun melakukannya.</p>
<p>Fenomena ini biasanya terjadi di kota-kota besar, dimana arus globalisasi dan informasi sangat cepat menyebar dan diterima para individunya. David Beckham menjadi ikon internasional yang menjadi tren setter bagi para pria metroseksual di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, kita bisa menyebut aktor Ferry Salim sebagai ikon. Penampilan mereka yang dandy, wangi, rapi dan klimis tidak menjadikan mereka dijuluki atau di cap banci, tapi sebaliknya, sekarang banyak wanita yang menyukai para pria metroseksual ini. Jadi, pria metroseksual ini tidak berkonotasi pada preferensi seksual tertentu atau membuat mereka di cap keperempuan-perempuanan.</p>
<p>Pria metroseksual ini biasanya berasal dari kalangan menengah atas. Berdasarkan Indonesian Metrosexual Behavioral Survey yang dilakukan MarkPlus&amp;Co akhir tahun lalu, para pria metroseksual ini umumnya paling suka belanja, tidak tabu untuk berdandan dan memanjakan diri dengan berlama-lama di salon, suka ngerumpi berjam-jam di kafe, dan sangat fashion-oriented &#8212; mereka selalu update terhadap model baju terbaru di New York atau Milan (dalam www.republika.co.id). Bahkan mereka memiliki jadwal rutin ke salon atau spa langganan mereka. Selain ‘mempercantik’ diri, mereka juga suka pergi ke tempat fitness dengan alasan menjaga penampilan mereka.  Kebanyakan dari mereka juga akrab dengan produk-produk kecantikan yang dulunya hanya menjadi konsumsi kaum wanita, seperti alas bedak, lipstik, pelembab, dan sebagainya. Beberapa produsen kosmetikpun memiliki koleksi khusus pria. Selain kosmetik, perlengkapan pakaian pun banyak dijejali dengan koleksi khusus pria dengan merk-merk terbaik. Bila dulu hanya kaum wanita yang aware untuk memakai perlengkapan yang branded, sekarang pria pun tidak mau kalah. Akibatnya, banyak produsen yang akhirnya juga melirik memproduksi perlengkapan koleksi untuk pria, mulai dari kosmetik, pakaian dan perlengkapan lainnya.</p>
<p>Menurut Tika Bisono, seorang psikolog, bahwa latar belakang para pria ini rata-rata berawal dari kegiatan fashion atau pekerjaan-pekerjaan seni yang menuntut ketelitian sebagaimana kaum perempuan (dalam www.pikiran-rakyat.com). Jadi ada semacam kebiasaan atau tuntutan profesi bahwa mereka harus berpenampilan rapi dan necis. Ambil contoh Ferry Salim, sebagai seorang pekerja seni, aktor, MC dan selebritis, maka profesinya menuntut untuk dia harus berpakaian rapi dan berdandan.</p>
<p><strong>VALS (VALUE, ATTITUDE &amp; LIFE-STYLE)</strong></p>
<p>Fenomena mengenai pria yang suka berdandan ini sebenarnya sudah ada sejak 1960-an, namun istilah pria metroseksual baru mencuat lima tahun terakhir. Sebutan ini awalnya tidak mendapat sambutan yang baik bagi para pria metroseksual, namun sekarang sebutan ini justru menjadi kebanggaan. Hal ini seiring dengan perubahan masyarakat dan sistem nilai yang berkembang.</p>
<p>Masyarakat dahulu lebih berpola sederhana dan lebih cenderung memiliki nilai tradisional. Sesuai dengan tata nilai masyarakat sebelumnya, maka pria digambarkan sebagai sosok yang macho, yang berpakaian lebih simpel dibanding wanita dan apa adanya. Pria juga lebih cenderung mengeksklusifkan diri dengan kelelakiannya dan cenderung menjauhi hal-hal yang berkonotasi wanita, seperti berdandan rapi, klimis, pergi ke salon atau spa. Dulu, hal-hal itu dianggap tabu untuk dilakukan olah pria. Namun sekarang, seiring berkembangnya jaman, maka pria dan wanita seringkali banyak memiliki kesamaan aktifitas, kesukaan bahkan pernak-pernik.</p>
<p>Pergeseran ini akhirnya membuat masyarakat, khususnya para kaum adam termotivasi untuk melakukan beberapa hal yang dulu awalnya dianggap tabu untuk dilakukan, seperti berdandan, rajin ke salon, spa, mal. Dorongan ini tentunya memiliki berbagai alasan yang berbeda pada masing-masing individu yang bersangkutan.   Menurut teori hirarki kebutuhan dari Maslow, para pria yang berada pada level ini sudah bukan lagi ada pada tataran memenuhi kebutuhan dasar. Paling sedikit mereka berada pada level memenuhi kebutuhan sosial untuk dihargai dan merasa sebagai bagian dari satu masa atau trend saat itu sehingga harapannya dapat mendongkrak self-esteem mereka. Hasil akhirnya adalah mereka akan mendapatkan aktualisasi diri dan pengakuan dari sekelilingnya. Dari kelas sosial ekonomi, dapat dipastikan mereka berasal dari kalangan menengah keatas. Ini tampak jelas karena membutuhkan biaya cukup besar untuk membiayai gaya hidup mereka yang cukup tinggi, seperti hang out di kafe bersama teman-teman, pergi secara rutin ke salon, spa, tempat fitness. Belum lagi membeli ‘kosmetik’ untuk dipakai sehari-hari dan barang-barang branded yang merupakan salah satu lambang identitas mereka.</p>
<p>Menurut Mitchell (1983) dalam Antonides (1991) disebutkan bahwa terdapat 9 tipe nilai dan gaya hidup orang Amerika (VALS) yang karakteristiknya ditandai dengan demografi dan pola beli. 9 tipe ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:</p>
<p>•	The survivors dan the sustainers yang merupakan tipe consumen. Cirinya adalah secara demografi mereka berpenghasilan rendah, berpendidikan rendah, merupakan kelompok minoritas dan tinggal di daerah yang padat. Harga menjadi faktor dominan dan fokus pada kebutuhan dasar.</p>
<p>•	The belongers, emulators, dan achievers merupakan 3 tipe yang pola belinya didorong oleh pandangan dari luar (outer directed) dan biasanya mereka membeli dengan kesadaran bahwa orang diluar mungkin akan memperhatikan atau mengavaluasi konsumsi mereka.</p>
<p>•	The I-Am-Me, the experiential, the social aware dan the integrated. Tipe ini didorong oleh dirinya sendiri (inner directed) yang lebih merupakan pemenuhan kebutuhan individual dibanding dengan memperhatikan eksternal.</p>
<p>Katagorisasi tersebut mengambil teori hirarki kebutuhan Maslow sebagai dasar. Pria metroseksual dapat digolongkan sebagai kategori kedua dan ketiga. Dengan tingkat sosio ekonomi menengah dan level pemula, biasanya mereka masih memperhatikan pandangan orang luar dalam melakukan tindakan ekonomi atau konsumsi. Sementara pria metroseksual dengan tingkat yang lebih tinggi, mereka cenderung memenuhi kebutuhannya dengan dorongan untuk memenuhi kebutuhan individualnya dibanding mempertimbangkan pandangan orang luar atau eksternal. Mereka ini berjumlah kecil dan akan berkembang, namun mereka juga biasanya adalah trend setter (Mitchell dalam Antonides, 1991).</p>
<p>Di Indonesia, nilai dan gaya hidup seperti dikemukakan oleh Mitchell dapat dikatakan sesuai. Seiring dengan arus informasi dan globalisasi, sesuatu yang bergerak dari negara maju akan dengan cepat sampai di balahan dunia yang lain, termasuk di Indonesia dan kota besar pada khususnya.</p>
<p>Dengan gambaran seorang pria metroseksual, maka tampak bahwa mereka dengan kelas sosial ekonomi mengengah keatas, dengan pendidikan yang cukup tinggi, dan pergaulan yang luas, adalah sangat mungkin mendapat akses informasi yang cepat dan up to date. Akibatnya, gaya hidup dan nilai yang dulunya mereka pegang akan dengan mudah pula bergeser ke nilai dan gaya hidup yang disesuaikan dengan tuntutan jaman, profesi dan sosial. Hal ini otomastis akan berpengaruh pada perilaku mereka.</p>
<p><strong>REFERENSI</strong></p>
<p>Antonides, Gerrit, Psychology in Economic and Business, An Introduction to Economic Psychology, Kluwer Academic Publishing, 1991</p>
<p>Harcar, Talha; Kaynak, Erdener; Kucukemiroglu, Orsay; Life Style Orientation of US and Canadian Consumers: Are Regio-Centric Standardized Marketing Strategies Feasible?, First Submission to Management International Review in May 2004</p>
<p>www.pikiran-rakyat.com, Pria Metroseksual: Eksis di Jalur Maskulin, browsing tanggal 30 September 2007</p>
<p>www.republika.co.id, Pasar Metroseksual, browsing tanggal 30 September 2007</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/errykurniawati.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/errykurniawati.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=errykurniawati.wordpress.com&amp;blog=3177710&amp;post=7&amp;subd=errykurniawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://errykurniawati.wordpress.com/2009/06/17/pria-metroseksual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/029dc552566362ef2179cdc5579f1c24?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Erry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maro Gabah: Satu Bentuk untuk Mencapai Peacekeeping</title>
		<link>http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/maro-gabah/</link>
		<comments>http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/maro-gabah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 11:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>errykurniawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[ILMIAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/maro-gabah/</guid>
		<description><![CDATA[Maro gabah dikenal di desa saya, Sanden, Bantul, Yogyakarta. Konsepnya adalah pemilik tanah memberikan tanahnya untuk diolah pada buruh tani yang –biasanya- tidak memiliki tanah untuk diolah. Konsep ini tidak memerlukan uang dalam transaksinya, tapi murni pembagian hasil sawah yang &#8230; <a href="http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/maro-gabah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=errykurniawati.wordpress.com&amp;blog=3177710&amp;post=3&amp;subd=errykurniawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maro gabah dikenal di desa saya, Sanden, Bantul, Yogyakarta. Konsepnya adalah pemilik tanah memberikan tanahnya untuk diolah pada buruh tani yang –biasanya- tidak memiliki tanah untuk diolah. Konsep ini tidak memerlukan uang dalam transaksinya, tapi murni pembagian hasil sawah yang berupa gabah, dengan komposisi 50%-50%, 50% pemilik tanah dan 50% penggarap sawah. 50% yang dibagi ini adalah jumlah setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan, seperti bibit, pupuk, tenaga kerja. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maro gabah ini dimulai sejak jaman Belanda. Dalam satu sistem masyarakat terdiri dari 2 kelompok, yaitu tuan tanah –yang biasanya secara sosial ekonomi kaya- dan buruh tani –yang biasanya secara sosial ekonomi miskin. Para tuan tanah ini biasanya memiliki tanah karena:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Warisan dari orang tuanya, biasanya mereka adalah para ningrat atau bangsawan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kaki tangan Belanda</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Penjaga perkebunan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Jabatan dalam pemerintahan: lurah atau carik yang mendapat tanah bengkok (tanah lenggah)</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam struktur masyarakat ini umumnya terjadi perbedaan strata dan gap antar kelompok, yaitu yang berpunya dengan kelompok miskin, kelompok bangsawan dan kelompok jelata. Disini ada potensial konflik diantara 2 kelompok tersebut, seperti kecemburuan sosial dan eksklusifisme dari masing-masing kelompok. Menurut Homans (1958), Blau (1964) dan Walster, Walster, dan Berscheid (1978) dalam Isenhart &amp; Spangle, 2000, konflik ini muncul dari perspektif distribusi keadilan. Orang menjadi distres, frustasi dan marah ketika mereka tidak menerima distribusi dengan adil atas sesuatu yang berharga. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maro gabah ini memiliki 2 perspektif, yaitu:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Murni transaksi ekonomi, biasanya pemilik tanah tidak memiliki waktu dan tenaga untuk manggarap sawah, sehingga mereka memberikan pada orang lain untuk mengolahnya. Pada persepektif ini biasanya mereka memilih orang dengan produktivitas yang tinggi supaya hasil panennya optimal. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sikap kepedulian pada sesama yang berada dalam komunitas tersebut. Sikap mendukung sesama yang kurang beruntung. Selain itu juga membuat kelompok ini semakin kohesif dan bertransformasi menjadi inklusif. </span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam sistem masyarakat desa yang komunal, maro gabah menjadi suatu sistem sosial yang lebih kepada tanggung jawab bersama. Maro gabah menjadi satu bentuk peacekeeping, yang pada dasarnya merupakan bentuk reaktif dengan tujuan mengurangi situasi yang buruk dari konflik. Dengan maro gabah, maka akan tercipta keadilan yang dirasakan oleh seluruh warga yang ada di desa tersebut dan menghilangkan gap serta eksklusifitas dari masing-masing kelompok.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam <strong>Teori Equity</strong>, Murdoon (1996) dalam Isenhart &amp; Spangle, 2000, menjelaskan bahwa, “masing-masing dari kita memiliki moral internal yang dapat digunakan untuk menciptakan stabilitas atau memelihara kita dalam kehidupan yang seimbang dengan dunia luar. Hal itu akan terganggu manakala kita merasa bahwa orang lain akan mengambil benefit dari pengeluaran kita atau ketika kita mengambil benefit secara tidak adil atas pengeluaran orang lain”. <span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Menurut teori Equity, maro gabah merupakan salah satu bentuk tanggung jawab moral dari mereka yang memiliki sumber daya berlebih, dalam hal ini sumber daya finansial (<em>financial capital</em>) dan lahan, yang kemudian dibagi kepada mereka yang memiliki sumber daya tenaga (<em>human capital</em>). Tujuannya agar terjadi pemerataan dalam komunitas tersebut dan seimbang. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pemberdayaan yang ada didalam komunitas tersebut akan membuat kesetaraan dan semakin sempitnya gap yang ada diantara 2 kelompok. Dengan begitu, masing-masing pihak akan merasa equal. Secara jangka panjang potensial konflik yang mungkin terjadi akan terminimalisir dan menjadi tindakan preventif untuk tetap menjaga perdamaian (<em>peacekeeping</em>).</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam Isenhart &amp; Spangle, 2000, disebutkan bahwa <strong>Teori Sistem</strong> merupakan teori yang berperspektif keluarga, kelompok, dan organisasi sebagai unit dari bagian yang saling terhubung, mempengaruhi dan memiliki fungsi dalam lingkungan yang lebih besar. Penemu teori sistem, yaitu Ludwig von Bertalanffy (1955), menggambarkan teori ini seperti organisme biologis. Seperti organisme biologis, sistem dikarakteristikkan seperti tertutup dan terbuka berdasarkan pada tindakan responsif pada informasi eksternal pada sistem tersebut. Homeostatis menjadi tujuan dari para pihak dan mereka akan saling menyesuaikan komunikasi mereka untuk mencapai atau memelihara keseimbangan. Anggota kelompok dalam sistem tersebut saling tergantung, seperti halnya mereka juga saling mempengaruhi secara simultan. Sistem bukanlah hitungan linear, tapi merupakan penjumlahan dari banyak bagian. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Cupach dan Canary (1997) menjabarkan 3 kategori dari sistem yang di-<em>breakdown </em>menjadi:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Transaksional yang tidak berguna, dimana orang terlibat konflik yang sama, pola interaksi yang tidak berubah. Orang dalam sistem ini tidak dapat melihat ketidakefektifan dalam pola ini atau tidak rela untuk mengubah pola tersebut. Sehingga seolah mereka mempertahankan status quo.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Penyebab sistem rusak adalah ketika satu bagian dari sistem, sebuah subsistem, menjadi tidak efektif. Kurangnya kerjasama atau kegagalan pada sebuah sistem membuat sulitnya sistem tersebut mencapai tujuannya. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Penyebab keterlibatan anggota yang melebihi peran. Ketika seseorang lebih berharap pada peran, ketidakseimbangan akan muncul.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sosiolog Talcott Parson, Robert Merton dan Emile Durkheim memakai konsep sistem untuk mendeskripsikan pengaruh konflik pada kesehatan atau keefektifan kelompok. Mereka mendeskripsikan stabilitas dan sistem fungsional sebagai satu kesatuan dimana masing-masing anggota menciptakan harmonisasi dalam keseluruhan yang lebih besar. Disfungsi muncul ketika orang menyebabkan gangguan dalam sistem yang stabil. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Menurut Teori Sistem, maro gabah merupakan salah satu cara untuk membuat komunitas desa tersebut mencapai homeostatis atau keseimbangan. Saat dua kelompok yang berbeda, yaitu kaya dan miskin ini tidak membantu, maka mereka tetap berada di 2 kutub yang berbeda. Buruh tani yang miskin akan berkutat dengan kemiskinannya dan kemungkinan lain yang lazim terjadi adalah para buruh ini akan keluar dari desa tersebut untuk mencari penghidupan di tempat lain dengan bekerja serabutan apa saja. Sementara disisi lain, sebenarnya pemilik tanah juga membutuhkan buruh tani, terlepas dengan tujuan membantu mereka untuk memperbaiki kehidupan ekonomi atau murni untuk menggarap sawah para pemilik tanah.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Diantara<span> </span>2 kelompok ini ada saling ketergantungan. Buruh tani membutuhkan lahan untuk digarap sebagai mata pencaharian atau sumber penghidupan mereka, sementara pemilik tanah membutuhkan petani penggarap. Bila ini berlanjut terus menerus, maka akan menjadi semacam siklus dalam masyarakat desa tersebut untuk saling menopang kebutuhan pihak lain. Dari sini akan tercipta homeostatis dalam sistem sosial, karena mereka sama-sama terpenuhi kebutuhannya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tamas, 1987 &amp; 2000 menyebutkan bahwa, dalam teori sistem dikenal energi atau pengaruh, yaitu variasi dari macam-macam hal yang melampaui batasan/<em>bounderis</em>. Energi ini disebut juga <em>social power</em> atau <em>psychological energy</em> yang merupakan elemen yang dibutuhkan dalam fungsi sistem sosial. Energi ini dapat menolong peningkatan kesejahteraan komunitas. Dibutuhkan energi dari komponen masyarakat desa, terutama pemilik tanah untuk punya tanggung jawab moral dan keinginan dari dalam diri untuk memberikan sawahnya untuk diolah buruh tani, dibanding hanya mempekerjakan buruh tani dalam mengolah sawahnya. Dalam susunan masyarakat desa ini, apabila buruh tani tidak memiliki modal diawal untuk membeli pupuk, bibit, dan keperluan lain, maka dia bisa meminjam uang dulu pada pemilik tanah. Ada beberapa pemilik tanah yang memberikan pinjaman dengan ditambah bunga, namun dalam konteks perdamaian, <em>social power</em> atau <em>psychological energy</em> yang keluar adalah semangat membantu dan kebersamaan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dengan adanya saling ketergantungan dan pola terus menerus sepert ini, diharapkan desa tersebut akan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, yaitu kebutuhan pekerjaan, kebutuhuhan tenaga kerja dan kebutuhan pokok beras. Harapannya adalah ada kehidupan dan penghidupan yang lebih layak bagi para petani buruh dan homeostatis dari komunitas desa tersebut. Dengan terpenuhinya kebutuhan pada masing-masing individu dan kelompok dalam sistem tersebut, maka akan tercipta <em>well-being</em> atau kesejahteraan dalam komunitas tersebut. Dengan <em>well-being</em>, maka kondisi damai akan terpelihara dan berkelanjutan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">REFERENSI</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Isenhart, Myra Warren &amp; Spangle, Michael, <em>Collaborative Approaches to Resolving Conflict</em>, Sage Publication Inc., 2000</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tamas, Andy, <em>Sistem Theory in Community Development</em>, White House, Yukon, &amp; Almonte, Ontario, 1987 &amp; 2000</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/errykurniawati.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/errykurniawati.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/errykurniawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/errykurniawati.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=errykurniawati.wordpress.com&amp;blog=3177710&amp;post=3&amp;subd=errykurniawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/maro-gabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/029dc552566362ef2179cdc5579f1c24?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Erry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/hello-world/</link>
		<comments>http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 10:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>errykurniawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=errykurniawati.wordpress.com&amp;blog=3177710&amp;post=1&amp;subd=errykurniawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/errykurniawati.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/errykurniawati.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/errykurniawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/errykurniawati.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=errykurniawati.wordpress.com&amp;blog=3177710&amp;post=1&amp;subd=errykurniawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://errykurniawati.wordpress.com/2008/03/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/029dc552566362ef2179cdc5579f1c24?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Erry</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
